Just another WordPress.com weblog

Objektif dari kebijakan moneter

Keadaan Indonesia pasca krismon tahun 97 masih dalam tahap recovery, karena parahnya dampak dari krismon tersebut yang membuat porak-porandanya stabilitas ekonomi negara kita tingkat inflasi yang sangat parah dan jebloknyan nilai rupiah sampai tembus 18.000 yang dikarenakan jumlah SDR habis untuk membayar hutang. Bank Indonesia sebagai lembaga keuangan di Negara kita diberikan kepercayaan dan wewenang untuk mengatur laju ekonomi Negara melalui kebijakan moneter. BI melaksanakan kebijakan nya dengan mengontrol laju inflasi, jumlah uang beredar dan kestabilan nilai kurs rupiah terhadap mata uang asing dan juga sebagai penentu tingkat suku bunga deposit dan kredit serta dapat mempengaruhi laju investasi ni Negara kita.

Lingkungan makro ekonomi dan kebijakan objektif

Pada jaman orde baru pemerintah mendapatkan dana tambahan dari pinjaman luar negri melalui IMF dan juga obligasi yang tidak retail yang hanya diperjualbelikan di luar negri. Tetapi sekarang pemerintah mendapatkan dana tambahan dari sedikit pinjaman dan lebih menekankan pada obligasi domestic yang berbentuk retail yang bisa di beli oleh masyarakat Indonesia. Pemerintah memulai perbaikan nya melalui pasar uang dengan mengeluarkan SBI (sertifikat bank Indonesia) yang suku bunganya menjadi patokan dari bank’’ umum di Indonesia. Jika bunga SBI naik maka bunga bank umum juga akan naik dan jumlah kredit akan turun sehingga investasi juga akan menurun karena orang cendrung menabung di bank jika investasi turun maka pasar barang dan jasa akan stuck karena kekurangan modal sehingga Q tidak bergerak dan dapat mengakibatkan kemunduran nilai export yang akan mengurangi SDR jika SDR menurun jumlah uang yang dibeli tidak bisa bertambah dan pasar uang juga akan stuck. Maka pemerintah harus menjaga keseimbangan antara laju pasar uang investasi dan pasar barang dan jasa. Yang menjadi tolak ukur suatu bangsa adalah GDP dan GNP keduanya akan meningkat jika salah satu indicator dari pendapatan perkapita naik. Seperti pengeluaran pemerintah atau investasi. Maka dari itu pemerintah menambah pengeluran nya demi tercapainya peningkatan pertumbuhan ekonomi dengan membangun infrastruktur seperti jalan umum yang dapat mempermudah transportasi dan dapat meningkatkan produksi karena biaya transport murah. Dengan tercapainya kestabilan di pasar uang maka masyarakat lebih percaya kepada pasar uang hal ini terbukti dari larisnya saham prsh keuangan dari pada saham prsh jasa dan barang.

3.1 general Framework of transmission channel

kebijakan moneter mempengaruhi ekonomi dan inflasi yang lebih luas, khususnya dikenal sebagai mekanisme transmisi kebijakan moneter. Dimana Kerangka umum dalam penyebaran kebijakan moneter secara berurut-urut terdiri dari kurs, harga aktiva, suku bunga, neraca, kredit, dan harapan(expectation).

Pemerintah mengatur kebijakan moneter dengan menjadikan BI rate sebagai patokan dalam mengendalikan likuiditas di pasar uang. Dimana, jika SBI turun maka tingkat suku bunga mengalami penurunan yang berpengaruh terhadap kenaikan investasi pada pasar uang. Hal ini berkaitan erat dengan kerangka umum diatas, Dimana Mekanisme transmisi moneter melalui suku bunga mulai dari suatu perubahan suku bunga jangka pendek, yang akan disalurkan kepada semua tingkat bunga menengah dan jangka panjang melalui mekanisme keseimbangan dari permintaan dan penawaran di dalam pasar keuangan. Perubahan tingkat bunga nominal jangka pendek, yang disimpan bank sentral dapat mempengaruhi perubahan-perubahan di dalam tingkat bunga riil jangka pendek dan jangka panjang. Dimana suku bunga efektif jangka pendek yang lebih rendah akan menyebabkan suatu penurunan suku bunga efektif jangka panjang. Semua ini diharapkan dapat mempengaruhi variabel-variabel harga di dalam pasar keuangan, seperti variabel di sektor riil, dan inflasi.
Kredit merupakan faktor penting dalam pasar uang, dimana Sistem perbankan menciptakan uang (likuiditas) dengan mengeluarkan deposito-deposito dan investasi spekulatif tanpa peran di sisi aktiva. Tiga kondisi yang penting dalam kredit, adalah (1) jumlah uang beredar dalam kebijakan moneter dapat berpengaruh terhadap uang di sector riil.(2) tingkat bunga jangka pendek harus mempengaruhi tingkat bunga jangka panjang dan (3) tingkat bunga jangka panjang harus mempengaruhi pengeluaran investasi di sektor riil. Kurs merupakan hal penting dalam menjalankan kebijakan moneter, dimana perubahan kurs mempengaruhi penawaran dan harga dalam pasar uang. Harapan (expectation) dalam pasar uang merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap tinggi rendahnya tingkat investasi di pasar uang. Asset price merupakan nilai dari aktiva yang mempengaruhi tingkat bunga pada pasar uang, sedangkan Balance sheet adalah laporan yang terdiri dari asset, liabilities dan equity, dimana menunjukkan kondisi baik/buruknya posisi keuangan suatu perusahaan.
Penjelasan diatas akan mempengaruhi domestic demand dan domestic supply serta komponen lainnya yang saling berkaitan satu sama lain terhadap perekonomian di pasar uang. Jika kerangka umum tersebut tidak terkordinir dengan baik akan terjadi inflasi.

3.2 Exchange Rate
Kurs merupakan hal penting dalam menjalankan kebijakan moneter, dimana perubahan kurs mempengaruhi penawaran dan harga dalam pasar uang. Suatu sistim kurs yang mengambang, sebagai contoh, kebijakan moneter akan jatuh, dimana harga uang kartal domestic juga akan menurun, dan meningkatkan harga dari barang impor, hal tersebut mengangkat harga domestik . Sementara itu, dalam beberapa Negara dengan suatu rezim yang diatur, dimana transmisi moneter yang dibanding oleh kurs lain akan memiliki suatu pengaruh secara relatif yang lebih besar dari harga di sector riil.
Berdasarkan analisa SVAR bahwa sebelum terjadi krisis, transmisi kebijakan moneter terhadap kurs sangat lemah. Dimana tindakan Moneter authoriy untuk memelihara keragaman kurs di dalam suatu kelompok tertentu telah menjaga kurs yang dapat diprediksi dan relatif stabil. Di bawah kondis seperti ini, suku bunga di instrumen SBI tidak mempunyai suatu dampak penting dalam kurs, dan kurs tersebut bukan satu faktor penentu yang penting dalam inflasi.
Jadi bank Indonesia sudah berkembang dan menerapkan satu sistim pemantauan dalam pertukaran valuta asing untuk melengkapi model makro pada kurs. Pertama, International Transaction Reporting System (LLD) dikembangkan dalam 2000 untuk memperbaiki pemahaman sifat dan besaran dari transaksi pertukaran valuta asing yang disertai bank-bank, lembaga keuangan bukan bank, perusahaan, dan individu. Ke dua, pemrosesan dalam analitis (OLAP) sistim dibuat dalam 2002 untuk memonitor transaksi pertukaran valuta asing sehari-hari di dalam pasar domestik. Sistem ini membantu Bank Indonesia untuk mengidentifikasi sumber dari fluktuasi kurs dan membatasi fluktuasi-fluktuasi di dalam kurs.
3.3 ASSETS PRICE CHANNEL
kondisi keuangan Negara dapat dilihat melalui asset price . asset price merupakan kekayaan yang akan dipakai oleh suatu Negara untuk menjalankan perekonomiannya. sebetulnya tidak ada hubungan antara asset price dengan ekonomi. tetapi menurut studi yang dilakukan oleh idris, assets price channel mempengaruhi kebijakan moneter melalui dampaknya di investasi.
investasi terhubung dengan tingkat suku bunga yang dikeluarkan oleh BI dengan nama lain yaitu SBI. jika SBI di naikan maka masyarakat cenderung lebih memilih untuk menyimpan uangnya di bank, sehingga dari pihak bank juga sedikit untuk mengeluarkan dana unutk kredit kepada masyarakat. kenaikan SBI juga mempengaruhi tingkat keinginan seseorang untuk berinvestasi karena dengan SBI yang di naikkan maka akan membuat biaya investasi lebih besar. sebaliknya bila SBI di turunkan aktivitas di pasar modal akan bergairah kembali. tetapi perlu disadari juga setiap satu peningkatan investasi maka akan menimbulkan inflasi. tetapi sebagian orang lebih menahan kekayaannya pada saat kanaikan inflasi.
konsumsi juga memiliki nilai negative. konsumsi yang terlalu besar akan mengakibatkan peningkatan inflasi juga. konsumsi yang terlalu tinggi akan menyebabkan demand pull inflation.
survey menunjukan bahwa investasi yang banyak di pilih oleh masyarakat di atas 33% lebih memilih menempatkan dananya ke dalam deposito bank. kemudian tanah dan perumahan menjadi tempat ke dua dan tiga dalam pilihan investasi yang lebih di sukai masyarakat. sedangkan saham hanya 3%.

3.4 interest rate channel

bank Indonesia memiliki salah satu instrument moneter yaitu kebijakan suku bunga, BI memiliki wewenang untuk menaikan atau menurunkan SBI(sertifikat bank Indonesia) yang menjadi patokan bagi bunga deposit dan juga bunga kredit bank’’ konvensional. Tetapi dalam menagmbil langkahnya BI haruslah berhati-hati karena kalau salah mengambil tindakan pasar modal akan terancam karena masyarakat cendrung untuk menabung karena lebih aman dan return nya juga lebih besar dari pada berinvestasi. Dan apabila hal tsb terjadi maka pasar barang dan jasa akan terikit imbasnya karena jumlah investor baru berkurang yang lambat laun akan mempengaruhi jumlah kuantitas yang diproduksi pada pasar barang dan jasa, apabila hal tsb terjadi maka jumlah eksport juga akan berkurang. Apabila jumlah eksport lebih kecil dibandingkan dengan import maka SDR Indonesia akan sedikit dan Indonesia tidak bias banyak untuk mencetak uang karena penjaminnya sedikit. Dari satu factor ini saja sudah berdampak kepada makro ekonomi Negara ini.

*periode sebelum krisis

Keadaan suku bunga sebelum krisis bisa dibilang stabil karena semua nya masih aman terkendali. Semua sector ekonomi juga berjalan dengan baik pertumbuhan ekonomi juga tinggi banyak pabrik’’ baru yang dibangun sehingga tingkat kemakmuran rakyat pun terjamin.

*periode setelah krisis

Keadaan nya jauh berbeda keadaan ekonomi porak poranda dan pasar keuangan,modal dan pasar barang dan jasa mengalami goncangan yang sangat parah. Banyak sekali perusahaan’’ yang bangkrut baik dari pasar uang,modal dan barang&jasa. Sehingga pertumbuhan ekonomi melambat. Pemerintah mengambil tindakan dengan memberikan stimulus’’ ekonomi agar dapat memperbaiki serta merangsang kembali pertumbuhan ekonomi melalui. Dari segi perbankan pemerintah mencoba untuk memberikan bantuan likuiditas agar dapat mendongkrak kembali sector keuangan. Dan menurunkan bunga SBI agar pasar modal kembali bergerak dan dapat memberikan imbas yang baik ke pasar barang dan jasa.

Bukti dari survey

Survey dilaksanakan terhadap rumah tangga,perusahaan dan juga bank’’. Semua pihak sangat berpatokan kepada suku bunga BI/ SBI. Jika SBI naik maka bank’’ akan menambah jumlah SBI mereka di BI karena lebih menguntungkan sehingga jumlah kredit berkurang dan masyarakat juga lebih memilih untuk menabung karena dapat bunga lebih besar dari pada berinvestasi. Tetapi walaupun SBI menurun kebanyakan rumah tangga tetap memilih untuk menabung/deposito di bank karena lebih aman dan dijamin pemerintah.

3.5 Bank lending channel
Bank dan atau perantara keuangan mempunyai peranan yang penting didalam kebijakan moneter terkait dengan perekonomian suatu Negara. Ada satu pendapat bahwa bank merupakan lembaga penyalur kredit.
Tiga kondisi penting yang menentukan bank sebagai lembaga penyalur dana :
1. Harga mengikat sehingga kebijakan moneter mempengaruhi keseimbangan dipasar uang.
2. Tingkat bunga jangka pendek harus dapat mempengaruhi tingkat bunga jangka panjang.
3. Tingkat bunga jangka panjang harus dapat mempengaruhi investasi.
Dalam perbankan, Aktiva seperti juga kewajiban memainkan peranan yang penting ( Bernanke dan Blinder (1988)). Dalam siklus moneter jika bank mengurangi cadangan minimum maka deposit (tabungan, deposito, dan giro) akan menurun yang menyebabkan penurunan pinjaman, sehingga akan mengurangi tingkat investasi. Sedangkan bagi Negara berkembang investasi merupakan sumber pemasukan external terbesar. Ketidakstabilan dalam dunia perbankan dapat mempengaruhi keadaan makroekonomi suatu Negara. Oleh sebab itu kondisi dibawah ini perlu diperhatikan :
1. Bank sentral harus mampu menyeimbangkan tingkat penawaran dari debitor.
2. Pinjaman bank dan sekuritas harus seimbang.
• Pre – crisis period
Diawal masa krisis tingkat kredit bank tidak dipengaruhi oleh kebijakan moneter karena akses antara bank konvensional dan bank asing relative mudah. Akibatnya walaupun JUB menurun bank-bank masih bisa menyediakan pinjaman bagi para debitor.
• Post – crisis period
Peminjaman bank komersial dipengaruhi oleh perilaku debitor selama dan setelah krisis. Melemahnya posisi neraca perusahaan dapat memperburuk posisi keuangan suatu perusahaan Karen bank tidak bersedia meminjamkan dananya. Karena liquiditas perusahaan dipertanyaankan.
• Evidence from survey
Bagian ini menyajikan satu analisa berdasar pada suatu survei dari bank-bank dan perusahaan. Survei itu dirancang untuk menghasilkan jawaban atas beberapa pertanyaan-pertanyaan yang penting di perilaku dari bank-bank dan perusahaan sebagai akibatnya dari suatu krisis yang moneter. Dari survei perbankan, masalah pokok diuji adalah apakah bank-bank mengurangi penawaran pinjaman mereka setelah suatu krisis yang moneter, seperti yang diharapkan oleh peminjaman bank menggali hipotesis.
• Lending behavior after a monetary shock:
Survei membuktikan bahwa didalam kasus JUB yang menurun akan mengurangi kredit dari bank. sementara bank pertukaran valuta asing tidak akan mengurangi penawaran kredit mereka (borrowing). Sebagai pembanding, bank asing dan bank yang lebih besar serta bank pertukaran valuta asing tidak mempunyai akses untuk menyimpan dana. Lebih lanjut, saham bank tersebut memungkinkan untuk melindungi peminjaman sedikitnya untuk sementara waktu. Suatu hasil ditemukan dalam kasus SBI yaitu sekitar 72 % dari bank-bank mengurangi daftar biaya pinjaman (bunga) dan sekitar 20 % menaikkan penawaran pinjaman.

3.6 Expectation Channel

Penyebab tarjadinya Krisis Kredit yang dikarenakan melemahnya neraca perusahaan di tengah – tengah rendahnya calon pembeli membuat bertambah buruknya posisi keuangan perusahaan. Dan oleh sebab itu mengurangi kesediaan bank untuk memberikan pinjaman. Untuk itu bank menjadi lebih selektif lagi untuk memberikan pinjaman kepada perusahaan. Karena bank tidak ingin mengambil resiko. Karena dalam kondisi seperti ini tidak menutup kemungkinan terjadinya kredit macet. Pinjaman bank adalah sumber utama dari dana luar.
Dari survei menunjukan dalam melakukan aktivitas bisnis, perusahaan menggunakan dana internal. Sementara , kredit bank masih merupakan sumber utama dari dana luar. Alasan utama perusahaan menggunakan dana internal karena mengacu pada masalah krisis kredit. Yaitu karena tingkat pinjaman relatif tinggi, prosedur untuk melakukan kredit juga sangat ketat dan karena adanya penjatahan kredit olehvbank.Biasanya perusahaan yang menggunakan pinjaman bank sebagai sumber utama untuk pembiayaan yaitu perusahaan manufaktur. Sementara itu sektor pertanian merupakan sektor yang paling sukar untuk memperoleh kredit dari Bank karena bisnis nya dinilai masih dalam skala kecil.
Keberadaan dari saluran pinjaman bank ditentukan oleh ada tidaknya kebijakan moneter yang mempengaruhi penawaran pinjaman. Sekitar 214% Bank- bank mengurangi penawaran pinjaman dan mayoritas bank ( 71%) menaikan tingkat pinjaman sebagai akibat dari uang ketat. Sementara itu, bank negara dan bank asing menaikkan suku bunga untuk mengurangi pinjaman- pinjaman.

Evidence from survey
Tingkat inflasi ditentukan oleh kurs dan suku bunga. Saat suku bunga ditingkatkan maka inflasi juga ikut meningkat. Dalam hal ini pasar tidak mempertimbangkan penyimpangan waktu dari kebijakan moneter. Untuk memproyeksikan inflasi masa depan, pasar menggunakan inflasi yg sebelumnya sebagai acuan.
4. conclusion
Setelah krisis, perekonomian sudah mengalami perubahan struktural. Suku bunga masih digunakan dalam pelaksanaan kebijakan moneter meskipun besarannya sudah dipengaruhi oleh kondisi-kondisi di dalam sistem perbankan dan menyeluruh faktor-faktor ketidakpastian dan risiko yang lebih tinggi. Serta mempengaruhi peminjaman bank untuk membatasi penurunan deposito-deposito dengan pembubaran, saham sekuritas mereka. Dan peminjamannya lebih sensitive terhadap perusahaan dengan modal rendah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: